Jakarta Kota Impian, Katanya.

Pagi itu ibu Ani menata dagangannya di depan rumah, meja yang biasa dia gunakan untuk berjualan kini semakin rapuh dimakan rayap. Tidak ada niat untuk mengganti meja tersebut dengan meja baru, karena memang bu Ani hanya memiliki meja itu untuk berjualan.

Setelah selesai menata dagangannya, bu Ani duduk di balik meja tersebut dan menanti pelanggan yang mungkin tertarik dengan makanan yang ia jajakan. Ada kue lumpur, ada nasi uduk, ada juga gorengan, dan juga es buah, bu Ani benar-benar menjual makanan yang benar-benar ia percaya diri memasaknya.

Setelah 10 menit berdiam diri di depan rumah, ada seorang tetangga yang sepertinya hendak pergi ke kantor. Setelan kemejanya tampak rapid an seperti baru disetrika.

“Mampi Jang, hari ini ada nasi uduk” Ucap bu Ani sambil menawarkan dagangannya kepada Ujang, tetangga yang baru 3 bulan tinggal di daerah sini. Ujang ngekos di rumah pak Didi, si juragan kosan.

“Eh iya bu, tapi saya udah bawa bekal bu” Tolak Ujang secara halus

Bu Ani tersenyum sambil mengambil plastik dan memasukkan beberapa gorengan ke dalam plastik tersebut. Ini tanggal tua, bu Ani tahu kalau Ujang pasti hanya membawa sedikit nasi dan telur goreng di dalam kotak makanannya.

“Ini, buat nambahin lauk” Bu Ani menyerahkan kantung gorengan itu ke Ujang.

Sedikit terharu, Ujang menerimanya dengan senyuman besar di wajahnya. Ia jarang berbicara dengan bu Ani, namun sosok ini seakan membuatnya memiliki ibu di kota Jakarta ini.

Sore hari, bu Ani sudah bersiap untuk membersihkan meja dagangannya. Tidak semua dagangan di meja tersebut habis, namun setidaknya nasi uduk dan gorengan sudah habis tak tersisa. Es buah masih ada, hanya saja esnya sudah mencair. Beberapa kue juga masih ada, bu Ani akan menyimpan kue yang masih bisa dijual besok.

Saat sedang sibuk berberes, tiba-tiba Ujang lewat depan rumah dengan pakaian yang tampak lebih kusut dari pagi tadi. Tanpa ada kata-kata apa-apa Ujang langsung membantu bu Ani untuk membereskan dagangannya.

“Gak usah Jang, kamu pasti capekkan? Udah, pulang aja” bu Ani

“Gapapa bu, Ujang juga masih ada tenaga kok, Cuma duduk doing di kantor mah ga ada apa-apanya”

“Ibu juga Cuma seharian duduk di sini, Jang, gak capek ibu. Udah Ujang balik aja” Bu Ani lagi-lagi meminta Ujang untuk langsung pergi ke kosannya.

Tiba-tiba bu Ani teringat sesuatu, ini masih jam 3 sore, biasanya Ujang akan kembali ke rumah jika pukul 5 sore. Kenapa anak ini kembali lebih cepat?

“Ujang, mau cerita nak?” Tanya bu Ani

Ujang tampak sedikit tersenyum, wajahnya tidak bisa menutupi kesedihan yang kini sangat tergambar jelas di wajahnya.

Siang ini diumumkan kalau tempat ia bekerja akan memberhentikan beberapa pekerja karena keterbatasan biaya akibat pandemi yang saat ini sedang berlangsung. Ujang adalah salah satu yang harus di PHK.

Pekerjaan ini baru ia dapatkan 3 bulan lalu setelah satu tahun lamanya ia tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Namun, setelah mendapatkannya malah dia langsung kehilangan pekerjaan itu.

Bu Ani tersenyum sesaat, lalu ia masuk ke dalam rumahnya hendak mengambil sesuatu. Ujang yang sedang termenung di depan rumah bu Ani kini masih termenung dalam pikirannya.

Kini bu Ani kembali dalam rumah dan memberikan Ujang selembar kertas. Ujang membaca surat tersebut dan menunjukkan sebuah alamat.

“Ini alamat perusahaan anak ibu, ini perusahaan keluarga, coba kamu ke sana. Bu telepon anaknya nanti” bu Ani

Dengan penuh air mata Ujang memeluk bu Ani, sosok ini benar-benar seperti ibunya. Jakarta kota impian, katanya, kata siapa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *